Buku ini dibuat pada tahun 2005 oleh Budiyanto Tambunan, SE dan Ronny
Susandi Siahaan, ST yang bertujuan menyatukan perspektif/ pandangan
pembangunan di Kota Balige untuk Pembangunan Kedepan.
Kabar baik dari terbitnya buku ini adalah dari 10 Point yang dituju, sudah 3 dari item tersebut yang sudah terbangun yaitu: Vegetasi (Green Line) sebagai Penegas Aksesibilitas/ Path (Kota), Riol/ Drainage Kota dan Sanitasi Pasar Balige, Serta Bantuan Pembangunan/ Perbaikan Kualitas Pasar Balige dan Bantuan Perbaikan/ Pembenahan DI Panjaitan.
Diharapkan Banyak Lagi sumbangan "Pemikiran" maupun dalam bentuk Bantuan Langsung yang dapat memajukan Balige yang juga menjadi Kebanggan Anak Batak Toba Khususnya Putra Balige di Perantauan.

Latar Belakang [Background]

Kabar baik dari terbitnya buku ini adalah dari 10 Point yang dituju, sudah 3 dari item tersebut yang sudah terbangun yaitu: Vegetasi (Green Line) sebagai Penegas Aksesibilitas/ Path (Kota), Riol/ Drainage Kota dan Sanitasi Pasar Balige, Serta Bantuan Pembangunan/ Perbaikan Kualitas Pasar Balige dan Bantuan Perbaikan/ Pembenahan DI Panjaitan.
Diharapkan Banyak Lagi sumbangan "Pemikiran" maupun dalam bentuk Bantuan Langsung yang dapat memajukan Balige yang juga menjadi Kebanggan Anak Batak Toba Khususnya Putra Balige di Perantauan.
Profil Kota Balige
Balige
sebagai Ibukota Kabupaten Toba Samosir yang juga merupakan salah satu
kota tersibuk disekitar kawasan Danau Toba. Hal tersebut dikarenakan
kota Balige ini merupakan jalur lintas Sumatera dan juga sebagai gerbang
penghubung antara Pulau Sumatera dan Pulau Samosir.
Kondisi tersebut lambat laun membuat kota Balige ini berkembang dengan sendirinya merespon kebutuhan para pendatang maupun transitor yang akan menyeberang, dengan memberikan jasa maupun usaha dagang dan membangun kios-kios maupun toko yang tumbuh secara Sporadis.
Kios-kios yang tumbuh tersebut dengan sendirinya membentuk suatu area bisnis/ Perdagangan tersendiri yang biasa dikenal dengan Central Distric Business (CDB).
Perkembangan wajah kota yang lahir secara sporadis tersebut mengakibatkan ketidak teraturan dalam penataan ruang kota, hirarki maupun Indentitas (Jati diri) dari kota Balige tersebut terjadinyalah pemanfaatan lahan yang berlebihan yang mengakibatkan Conflict Spatial. Tumpang tindihnya antara banyaknya aktivitas dan pengguna kota Balige yaitu antara pelintas (Transitor), Pemukim maupun Pembelanja.
Sehingga perlu adanya ‘PEREMAJAAN KEMBALI’ wajah kota Balige yang ada saat ini dengan memberikan ketegasan space atau ruang, yang dimaksudkan untuk memberikan suasana sesuai dengan yang diinginkan menurut kebutuhan district/ areanya masing-masing tanpa menghilangkan prilaku maupun budaya setempat.
Permasalahan [Main Issue ]
1.Berubahnya wajah kota yang tidak terkendali yang mengakibatkan pudarnya jati diri dari Kota Balige
2.Pemanfaatan
ruang/ lahan yang berlebihan sehingga mengakibatkan terjadinya tumpang
tindih (Conflict Spatial) antar aktivitas/ prilaku yang berbeda pada
satu kawasan yang sama.
3.Belum memanfaatkan Infrastruktur yang tersedia secara optimal.
4.Tidak
adanya lahan parkir yang memadai sehingga menyebabkan banyaknya titik
kemacetan sepanjang Jalan Utama.(Jl. Sisingamangaraja).
5.Hak
atas tanah untuk kepentingan fasilitas umum. Status Kepemilikan Tanah
di Kota Balige mayoritas Tanah Ulayat/ Adat/ Keluarga. Sehingga sulit
untuk melepaskan tanahnya.
Identifikasi Permasalahan [Identify Problems]
1.Mengembalikan Jati diri Kawasan dengan menata kawasan Central Distric Bisnis sesuai dengan landscape yang ada.
2.Adanya penzoningan dan intersection yang baik antar pengguna kawasan.
3.Penyajian
lingkungan yang menarik dari segi kerapihan, ketertiban maupun
kebersihan dangan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia pada
kawasan.
4.Penggunaan
material, warna dan tekstur yang dapat memberikan suasana yang alami
dan ditunjang dengan motif dari ciri budaya lokal setempat pada taraf
desain nantinya.
Tujuan dan Sasaran [Objective & Destination]
Tujuan
Menata
kawasan kota yang sudah terbentuk dengan memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan penataan ruang perkotaan dari fasilitas Tecnical dan
sosial infrastruktur (Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial) yang sudah
tersedia dan memanfaatkannya secara Optimal dan Efisien.
Sasaran
Terwujudnya
kota Balige yang indah, teratur, bersih dan nyaman yang dapat
menampung semua aktivitas pengguna kawasan dengan mempertahankan nuansa
Budaya Lokal (Batak Toba).
Karakteristik Kawasan [Characteristic Site]
Parameter Kota Balige
Kota
Balige merupakan sebuah kota transisi atau kota peralihan dari
tradisional ke kota yang modern. Dimana struktur perkotaanya sangat
kompleks dan unik, sehingga keberadaan ini haruslah dipertahankan guna
menyelamatkan ciri budaya lokal yang masih ditemukan di kota ini.
Iklim
kota Balige dipengaruhi oleh peruntukan kota dengan area yang berada
pada tepian Danau Toba dan kaki Bukit Barisan dengan suhu 17ºC - 29ºC,
kelembaban rata-rata 85,04%.
Pada
pembentukan ruang dan bangunan sudah mengarah kepada perkotaan yang
modern, dengan kultur sosio budaya dan komunitas yang heterogen tetapi
jiwa kebersamaannya tetap menganut sistem tradisional.
Secara
keseluruhan, pola dan struktur kota Balige dipengaruhi oleh Iklim,
Prilaku/ Tradisi masyarakat yang mempertahankan kebersamaan (Asli),
Budaya yang masih kuat, namun merespon para pendatang baru dengan
upaya-upaya pemberian jasa seperti berdagang (Toko/ Kios) dsb.
Strategi [Strategy]
Strategi dan
langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pendekatan perencanaan dengan
mempertimbangkan beberapa aspek, yang antara lain:
-Adaptasi dan orientasi terhadap karakteristik Site.
-Transformasi terhadap lingkungan budaya maupun sosial.
-Memvisualisasikan design yang ramah dan memberikan suasana Budaya Lokal (Spirit of Place).
-Penyajian yang dapat mewadahi bagi pemakai kawasan dan dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya.
-Memberdayakan
dan meningkatkan peranserta elemen masyarakat, Tokoh Masyarakat, Tokoh
Agama, Pemerintah Daerah maupun Masyarakat perantau.
Pdkt Perencanaan&Perancangan
[Planning and Design Approach]
Lingkup Perencanaan yang akan dilakukan meliputi, antara lain:
1.Memberikan batas aksesibilitas yang jelas pada ruas jalan sepanjang Tugu Mayjen D. I. Panjaitan (Landmark) ke batas akhir kota/ Jembatan Juara Monang (End Point). Dengan memberikan Ruang bagi pejalan kaki (Pedestrian), Area parkir, bagi kendaraan bermotor dan Memberikan Pembatas vegetasi (Green Line) pada jalan utama.
2.Merevitalisasi dan Merenovasi Tugu Mayjen D. I. Panjaitan untuk menjadi ‘Public Space’ dengan menjadikan Taman Kota.
3.Mendekorasi Jembatan Juara Monang -yang merupakan pintu utama keluar masuk Kota Balige (Entrance) agar lebih Monumental namun ramah lingkungan.
4.Memberikan Rambu-rambu jalan pada titik yang rawan kemacetan, seperti Traffic Light pada Simpang jalan Gereja dan Square. Penunjuk Arah (Sign) pada Square. Dan Penambahan Street Furniture
pada area Public Space seperti Penentuan titik Tong sampah dan
Designnya terhadap kawasan, maupun tempat duduk untuk beristirahat.
5.Penambahan Penerang Jalan dan penerangan bagi bangunan yang unik yang dapat memberikan nuansa lokal seperti pada Façade Pasar Balige.
6.Perbaikan Riol Kota (Drainage) sepanjang jalur utama dan mengaktifkan
kembali fungsi trotoar.
7.Menentukan Point2 penempatan Billboard, Spanduk maupun umbul-umbul.
8.Membangun Jalan Alternatif (pengalihan) berupa Ring Road demi pengembangan kota kedepan.
9.Merefungsikan
Pasar Pelabuhan dan Gang Kebakaran yang selama ini sudah terabaikan,
untuk menjadi area pengalihan pada hari pekan/ onan yang sering
dilakukan setiap jumat.
10Mengalih fungsikan Balairung (Sopo Gorga) yang berada pada pasar Balige untuk menjadi Panggung Rakyat pada Event-event tertentu, dan dapat dipergunakan sehari-harinya sebagai tempat penjualan barang-barang Souvenir/ Handy Craft secara temporer.
11Menata Pelabuhan Balige yang bersih dan nyaman dengan memberikan area tunggu bagi penumpang dan bongkar muat yang teratur.
Usulan Desain [Proposal Of Design]
Desain I, Memberikan Batas Aksesibilitas yang jelas dan Green Line.
Desain II, Merevitalisasi dan Merenovasi Tugu Mayjen DI. Panjaitan.
Ditinjau
dari segi penataan ruang suatu perkotaan, mengapa Tugu DI Panjaitan
perlu ditata kembali dengan mempertimbangkan beberapa aspek, yang antara
lain:
1.Memunculkan kembali Landmark Kota Balige.
2.Perlu adanya wadah/ tempat untuk berpolitis (Panggung Rakyat).
3.Menjadi ruang terbuka untuk umum (Public Space) yang dapat dinikmati setiap orang.
Faktor yang mempengaruhi perencanaan antara lain menyangkut:
1.Kenyamanan (Comfortable)
a.Phychology Comfort
Level/ Ketinggian dari Taman yang sama dengan Trotoar dan membedakan tekstur lantai agar dapat dinikmati para Tunanetra.
b.Physical Comfort
Penghawaan
yang bebas pada bangunan (Gazebo=lihat lembar berikut) dan Pencahayaan
buatan tertata sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
2.View
a.Konfigurasi Vertikal
b.Konfigurasi Horisontal
3.Ekology
Bangunan yang ramah lingkungan, dengan tidak menggangu sirkulasi udara dan penempatan tanaman (vegetasi) yang teratur.
4.Transformasi Budaya
Memberikan bentuk dan ciri budaya Batak.
5.Konservatif
Menjaga bentuk asli, khususnya pada bangunan Tugu DI Panjaitan.

Gubahan
Massa pada penataan ruang luarnya masih memakai bentuk lama yaitu
persegi lima. Hal ini mengingat penghargaan terhadap arsitek yg
terdahulu.
Namun ada perubahan pada level space,yang membuat elevasi trotoar dan taman menjadi satu bagian, agar memberikan sekuens (Suasana Ruang) yang tdk terlalu berbeda.
Desain III, Mendekorasi Jembatan Juara Monang.
Desain IV, Memberikan Rambu-rambu Jalan

Desain V, Penambahan Penerangan Jalan dan lampu pd Façade Pasar
Desain VI, Perbaikan Riol Kota

Desain VII, Point2 Penempatan Billboard

Desain VIII, Membangun Jalan Alternative/ Ring Road

Desain IX, Pengalih Fungsian Balairung Ps. Balige
Melihat padatnya bangunan disepanjang jalan Sisingama ngaraja, maka perlu adanya penambahan ruang terbuka. Lahan/ site yang memungkinkan penempatan ruang terbuka (open space) ini antara lain dengan memunculkan kembali fungsi Balairung yang merupakan tempat untuk bertemunya warga, yang selama ini difungsikan menjadi pasar tradisional.
Melihat padatnya bangunan disepanjang jalan Sisingama ngaraja, maka perlu adanya penambahan ruang terbuka. Lahan/ site yang memungkinkan penempatan ruang terbuka (open space) ini antara lain dengan memunculkan kembali fungsi Balairung yang merupakan tempat untuk bertemunya warga, yang selama ini difungsikan menjadi pasar tradisional.
Mengingat salah satu kebutuhan perkotaan yang memerlukan adanya tempat khusus bagi para pedagang Tradisional dan ruang terbuka (open space) yang dimaksudkan tadi, maka langkah yg akan diambil adalah:
1.Mengosongkan Balairung dari para pedagang.
2.Melokasikan
para pedagang tradisional secara Vertikal, agar tidak memenuhi lahan
seperti pd saat ini dengan membuat angunan bertingkat dibelakang
Balairung tersebut.
3.Membuka Pagar yang menutupi Balairung yang ada saat ini agar lebih terbuka.
Desain X, Penataan Pelabuhan Balige
Talut didesain segi enam dengan dimensi 200cm persisi dengan ketebalan 50cm.
Dimaksudkan agar terbentuk suatu space yang dapat dipergunakan menjadi Plaza Pantai yang dapat dipergunakan sebagai tempat bersantai dan sebagainya.
Tujuan Dermaga didesain adalah agar kapal yang berlabuh mempunyai tempat/ wadah yang sudah tersedia agar lebih tertib dan Rapih.
Pelabuhan ini menjadi pelabuhan yang Multi Fungsi sesuai dengan keberadaan waktu, yaitu Berfungsi sebagai Area Berlabuh pada pagi-sore, dan menjadi area rekreasi pada waktu malam.
Pada Embarkasi/ Bongkar muat barang tidak mempergukanan lahan/ tanah yang berada pada sisi Dermaga lagi seperti yang terjadi pada saat ini yang menyebabkan berkurangnya lahan untuk berjualan.
Dimaksudkan agar terbentuk suatu space yang dapat dipergunakan menjadi Plaza Pantai yang dapat dipergunakan sebagai tempat bersantai dan sebagainya.
Tujuan Dermaga didesain adalah agar kapal yang berlabuh mempunyai tempat/ wadah yang sudah tersedia agar lebih tertib dan Rapih.
Pelabuhan ini menjadi pelabuhan yang Multi Fungsi sesuai dengan keberadaan waktu, yaitu Berfungsi sebagai Area Berlabuh pada pagi-sore, dan menjadi area rekreasi pada waktu malam.
Pada Embarkasi/ Bongkar muat barang tidak mempergukanan lahan/ tanah yang berada pada sisi Dermaga lagi seperti yang terjadi pada saat ini yang menyebabkan berkurangnya lahan untuk berjualan.
Buku ini dibuat pada tahun 2005 oleh Budiyanto Tambunan, SE dan Ronny
Susandi Siahaan, ST yang bertujuan menyatukan perspektif/ pandangan
pembangunan di Kota Balige untuk Pembangunan Kedepan.
Kabar baik dari terbitnya buku ini adalah dari 10 Point yang dituju, sudah 3 dari item tersebut yang sudah terbangun yaitu: Vegetasi (Green Line) sebagai Penegas Aksesibilitas/ Path (Kota), Riol/ Drainage Kota dan Sanitasi Pasar Balige, Serta Bantuan Pembangunan/ Perbaikan Kualitas Pasar Balige dan Bantuan Perbaikan/ Pembenahan DI Panjaitan.
Diharapkan Banyak Lagi sumbangan "Pemikiran" maupun dalam bentuk Bantuan Langsung yang dapat memajukan Balige yang juga menjadi Kebanggan Anak Batak Toba Khususnya Putra Balige di Perantauan.

Latar Belakang [Background]

Kabar baik dari terbitnya buku ini adalah dari 10 Point yang dituju, sudah 3 dari item tersebut yang sudah terbangun yaitu: Vegetasi (Green Line) sebagai Penegas Aksesibilitas/ Path (Kota), Riol/ Drainage Kota dan Sanitasi Pasar Balige, Serta Bantuan Pembangunan/ Perbaikan Kualitas Pasar Balige dan Bantuan Perbaikan/ Pembenahan DI Panjaitan.
Diharapkan Banyak Lagi sumbangan "Pemikiran" maupun dalam bentuk Bantuan Langsung yang dapat memajukan Balige yang juga menjadi Kebanggan Anak Batak Toba Khususnya Putra Balige di Perantauan.
Profil Kota Balige
Balige
sebagai Ibukota Kabupaten Toba Samosir yang juga merupakan salah satu
kota tersibuk disekitar kawasan Danau Toba. Hal tersebut dikarenakan
kota Balige ini merupakan jalur lintas Sumatera dan juga sebagai gerbang
penghubung antara Pulau Sumatera dan Pulau Samosir.
Kondisi tersebut lambat laun membuat kota Balige ini berkembang dengan sendirinya merespon kebutuhan para pendatang maupun transitor yang akan menyeberang, dengan memberikan jasa maupun usaha dagang dan membangun kios-kios maupun toko yang tumbuh secara Sporadis.
Kios-kios yang tumbuh tersebut dengan sendirinya membentuk suatu area bisnis/ Perdagangan tersendiri yang biasa dikenal dengan Central Distric Business (CDB).
Perkembangan wajah kota yang lahir secara sporadis tersebut mengakibatkan ketidak teraturan dalam penataan ruang kota, hirarki maupun Indentitas (Jati diri) dari kota Balige tersebut terjadinyalah pemanfaatan lahan yang berlebihan yang mengakibatkan Conflict Spatial. Tumpang tindihnya antara banyaknya aktivitas dan pengguna kota Balige yaitu antara pelintas (Transitor), Pemukim maupun Pembelanja.
Sehingga perlu adanya ‘PEREMAJAAN KEMBALI’ wajah kota Balige yang ada saat ini dengan memberikan ketegasan space atau ruang, yang dimaksudkan untuk memberikan suasana sesuai dengan yang diinginkan menurut kebutuhan district/ areanya masing-masing tanpa menghilangkan prilaku maupun budaya setempat.
Permasalahan [Main Issue ]
1.Berubahnya wajah kota yang tidak terkendali yang mengakibatkan pudarnya jati diri dari Kota Balige
2.Pemanfaatan
ruang/ lahan yang berlebihan sehingga mengakibatkan terjadinya tumpang
tindih (Conflict Spatial) antar aktivitas/ prilaku yang berbeda pada
satu kawasan yang sama.
3.Belum memanfaatkan Infrastruktur yang tersedia secara optimal.
4.Tidak
adanya lahan parkir yang memadai sehingga menyebabkan banyaknya titik
kemacetan sepanjang Jalan Utama.(Jl. Sisingamangaraja).
5.Hak
atas tanah untuk kepentingan fasilitas umum. Status Kepemilikan Tanah
di Kota Balige mayoritas Tanah Ulayat/ Adat/ Keluarga. Sehingga sulit
untuk melepaskan tanahnya.
Identifikasi Permasalahan [Identify Problems]
1.Mengembalikan Jati diri Kawasan dengan menata kawasan Central Distric Bisnis sesuai dengan landscape yang ada.
2.Adanya penzoningan dan intersection yang baik antar pengguna kawasan.
3.Penyajian
lingkungan yang menarik dari segi kerapihan, ketertiban maupun
kebersihan dangan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia pada
kawasan.
4.Penggunaan
material, warna dan tekstur yang dapat memberikan suasana yang alami
dan ditunjang dengan motif dari ciri budaya lokal setempat pada taraf
desain nantinya.
Tujuan dan Sasaran [Objective & Destination]
Tujuan
Menata
kawasan kota yang sudah terbentuk dengan memperhatikan
kebutuhan-kebutuhan penataan ruang perkotaan dari fasilitas Tecnical dan
sosial infrastruktur (Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial) yang sudah
tersedia dan memanfaatkannya secara Optimal dan Efisien.
Sasaran
Terwujudnya
kota Balige yang indah, teratur, bersih dan nyaman yang dapat
menampung semua aktivitas pengguna kawasan dengan mempertahankan nuansa
Budaya Lokal (Batak Toba).
Karakteristik Kawasan [Characteristic Site]
Parameter Kota Balige
Kota
Balige merupakan sebuah kota transisi atau kota peralihan dari
tradisional ke kota yang modern. Dimana struktur perkotaanya sangat
kompleks dan unik, sehingga keberadaan ini haruslah dipertahankan guna
menyelamatkan ciri budaya lokal yang masih ditemukan di kota ini.
Iklim
kota Balige dipengaruhi oleh peruntukan kota dengan area yang berada
pada tepian Danau Toba dan kaki Bukit Barisan dengan suhu 17ºC - 29ºC,
kelembaban rata-rata 85,04%.
Pada
pembentukan ruang dan bangunan sudah mengarah kepada perkotaan yang
modern, dengan kultur sosio budaya dan komunitas yang heterogen tetapi
jiwa kebersamaannya tetap menganut sistem tradisional.
Secara
keseluruhan, pola dan struktur kota Balige dipengaruhi oleh Iklim,
Prilaku/ Tradisi masyarakat yang mempertahankan kebersamaan (Asli),
Budaya yang masih kuat, namun merespon para pendatang baru dengan
upaya-upaya pemberian jasa seperti berdagang (Toko/ Kios) dsb.
Strategi [Strategy]
Strategi dan
langkah-langkah yang akan dilakukan dalam pendekatan perencanaan dengan
mempertimbangkan beberapa aspek, yang antara lain:
-Adaptasi dan orientasi terhadap karakteristik Site.
-Transformasi terhadap lingkungan budaya maupun sosial.
-Memvisualisasikan design yang ramah dan memberikan suasana Budaya Lokal (Spirit of Place).
-Penyajian yang dapat mewadahi bagi pemakai kawasan dan dapat memberikan kenyamanan bagi penggunanya.
-Memberdayakan
dan meningkatkan peranserta elemen masyarakat, Tokoh Masyarakat, Tokoh
Agama, Pemerintah Daerah maupun Masyarakat perantau.
Pdkt Perencanaan&Perancangan
[Planning and Design Approach]
Lingkup Perencanaan yang akan dilakukan meliputi, antara lain:
1.Memberikan batas aksesibilitas yang jelas pada ruas jalan sepanjang Tugu Mayjen D. I. Panjaitan (Landmark) ke batas akhir kota/ Jembatan Juara Monang (End Point). Dengan memberikan Ruang bagi pejalan kaki (Pedestrian), Area parkir, bagi kendaraan bermotor dan Memberikan Pembatas vegetasi (Green Line) pada jalan utama.
2.Merevitalisasi dan Merenovasi Tugu Mayjen D. I. Panjaitan untuk menjadi ‘Public Space’ dengan menjadikan Taman Kota.
3.Mendekorasi Jembatan Juara Monang -yang merupakan pintu utama keluar masuk Kota Balige (Entrance) agar lebih Monumental namun ramah lingkungan.
4.Memberikan Rambu-rambu jalan pada titik yang rawan kemacetan, seperti Traffic Light pada Simpang jalan Gereja dan Square. Penunjuk Arah (Sign) pada Square. Dan Penambahan Street Furniture
pada area Public Space seperti Penentuan titik Tong sampah dan
Designnya terhadap kawasan, maupun tempat duduk untuk beristirahat.
5.Penambahan Penerang Jalan dan penerangan bagi bangunan yang unik yang dapat memberikan nuansa lokal seperti pada Façade Pasar Balige.
6.Perbaikan Riol Kota (Drainage) sepanjang jalur utama dan mengaktifkan
kembali fungsi trotoar.
7.Menentukan Point2 penempatan Billboard, Spanduk maupun umbul-umbul.
8.Membangun Jalan Alternatif (pengalihan) berupa Ring Road demi pengembangan kota kedepan.
9.Merefungsikan
Pasar Pelabuhan dan Gang Kebakaran yang selama ini sudah terabaikan,
untuk menjadi area pengalihan pada hari pekan/ onan yang sering
dilakukan setiap jumat.
10Mengalih fungsikan Balairung (Sopo Gorga) yang berada pada pasar Balige untuk menjadi Panggung Rakyat pada Event-event tertentu, dan dapat dipergunakan sehari-harinya sebagai tempat penjualan barang-barang Souvenir/ Handy Craft secara temporer.
11Menata Pelabuhan Balige yang bersih dan nyaman dengan memberikan area tunggu bagi penumpang dan bongkar muat yang teratur.
Usulan Desain [Proposal Of Design]
Desain I, Memberikan Batas Aksesibilitas yang jelas dan Green Line.
Desain II, Merevitalisasi dan Merenovasi Tugu Mayjen DI. Panjaitan.
Ditinjau
dari segi penataan ruang suatu perkotaan, mengapa Tugu DI Panjaitan
perlu ditata kembali dengan mempertimbangkan beberapa aspek, yang antara
lain:
1.Memunculkan kembali Landmark Kota Balige.
2.Perlu adanya wadah/ tempat untuk berpolitis (Panggung Rakyat).
3.Menjadi ruang terbuka untuk umum (Public Space) yang dapat dinikmati setiap orang.
Faktor yang mempengaruhi perencanaan antara lain menyangkut:
1.Kenyamanan (Comfortable)
a.Phychology Comfort
Level/ Ketinggian dari Taman yang sama dengan Trotoar dan membedakan tekstur lantai agar dapat dinikmati para Tunanetra.
b.Physical Comfort
Penghawaan
yang bebas pada bangunan (Gazebo=lihat lembar berikut) dan Pencahayaan
buatan tertata sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.
2.View
a.Konfigurasi Vertikal
b.Konfigurasi Horisontal
3.Ekology
Bangunan yang ramah lingkungan, dengan tidak menggangu sirkulasi udara dan penempatan tanaman (vegetasi) yang teratur.
4.Transformasi Budaya
Memberikan bentuk dan ciri budaya Batak.
5.Konservatif
Menjaga bentuk asli, khususnya pada bangunan Tugu DI Panjaitan.

Gubahan
Massa pada penataan ruang luarnya masih memakai bentuk lama yaitu
persegi lima. Hal ini mengingat penghargaan terhadap arsitek yg
terdahulu.
Namun ada perubahan pada level space,yang membuat elevasi trotoar dan taman menjadi satu bagian, agar memberikan sekuens (Suasana Ruang) yang tdk terlalu berbeda.
Desain III, Mendekorasi Jembatan Juara Monang.
Desain IV, Memberikan Rambu-rambu Jalan

Desain V, Penambahan Penerangan Jalan dan lampu pd Façade Pasar
Desain VI, Perbaikan Riol Kota

Desain VII, Point2 Penempatan Billboard

Desain VIII, Membangun Jalan Alternative/ Ring Road

Desain IX, Pengalih Fungsian Balairung Ps. Balige
Melihat padatnya bangunan disepanjang jalan Sisingama ngaraja, maka perlu adanya penambahan ruang terbuka. Lahan/ site yang memungkinkan penempatan ruang terbuka (open space) ini antara lain dengan memunculkan kembali fungsi Balairung yang merupakan tempat untuk bertemunya warga, yang selama ini difungsikan menjadi pasar tradisional.
Melihat padatnya bangunan disepanjang jalan Sisingama ngaraja, maka perlu adanya penambahan ruang terbuka. Lahan/ site yang memungkinkan penempatan ruang terbuka (open space) ini antara lain dengan memunculkan kembali fungsi Balairung yang merupakan tempat untuk bertemunya warga, yang selama ini difungsikan menjadi pasar tradisional.
Mengingat salah satu kebutuhan perkotaan yang memerlukan adanya tempat khusus bagi para pedagang Tradisional dan ruang terbuka (open space) yang dimaksudkan tadi, maka langkah yg akan diambil adalah:
1.Mengosongkan Balairung dari para pedagang.
2.Melokasikan
para pedagang tradisional secara Vertikal, agar tidak memenuhi lahan
seperti pd saat ini dengan membuat angunan bertingkat dibelakang
Balairung tersebut.
3.Membuka Pagar yang menutupi Balairung yang ada saat ini agar lebih terbuka.
Desain X, Penataan Pelabuhan Balige
Talut didesain segi enam dengan dimensi 200cm persisi dengan ketebalan 50cm.
Dimaksudkan agar terbentuk suatu space yang dapat dipergunakan menjadi Plaza Pantai yang dapat dipergunakan sebagai tempat bersantai dan sebagainya.
Tujuan Dermaga didesain adalah agar kapal yang berlabuh mempunyai tempat/ wadah yang sudah tersedia agar lebih tertib dan Rapih.
Pelabuhan ini menjadi pelabuhan yang Multi Fungsi sesuai dengan keberadaan waktu, yaitu Berfungsi sebagai Area Berlabuh pada pagi-sore, dan menjadi area rekreasi pada waktu malam.
Pada Embarkasi/ Bongkar muat barang tidak mempergukanan lahan/ tanah yang berada pada sisi Dermaga lagi seperti yang terjadi pada saat ini yang menyebabkan berkurangnya lahan untuk berjualan.
Dimaksudkan agar terbentuk suatu space yang dapat dipergunakan menjadi Plaza Pantai yang dapat dipergunakan sebagai tempat bersantai dan sebagainya.
Tujuan Dermaga didesain adalah agar kapal yang berlabuh mempunyai tempat/ wadah yang sudah tersedia agar lebih tertib dan Rapih.
Pelabuhan ini menjadi pelabuhan yang Multi Fungsi sesuai dengan keberadaan waktu, yaitu Berfungsi sebagai Area Berlabuh pada pagi-sore, dan menjadi area rekreasi pada waktu malam.
Pada Embarkasi/ Bongkar muat barang tidak mempergukanan lahan/ tanah yang berada pada sisi Dermaga lagi seperti yang terjadi pada saat ini yang menyebabkan berkurangnya lahan untuk berjualan.


