Bulan Desember, tepatnya tanggal 25 desember, dunia merayakan Hari
Natal. Perayaan tersebut dianggap memperingati kelahiran Yesus Kristus.
Namun, benarkah Yesus lahir pada tanggal tersebut? Lalu, bagaimana perayaan Natal di masa gereja mula-mula?
Bagaimana pula asal-usul pernak pernik Natal, seperti pohon Natal? Simak jawabannya berikut ini.
Sejarah Singkat Perayaan Natal
Awalnya, perayaan Natal diperkirakan
berasal dari festival Romawi dan negara Eropa lainnya yang menandai
akhir masa panen dan masa titik balik matahari di musim gugur. Menurut
sejarah awal Romawi, penentuan tanggal 25 desember sebagai masa awal
kelahiran Yesus Kristus dilakukan pada abad ke-4. Beberapa kebiasaan
dari perayaan yang masih bertahan sampai saat ini termasuk mendekorasi
rumah dengan tumbuh-tumbuhan hijau, pemberian hadiah, menyanyikan
lagu-lagu dan menyiapkan masakan istimewa.
Kaum Puritan
beranggapan bahwa Natal bukan bagian dari Kekristenan. Mereka tidak
menemukan 25 desember sebagai tanggal kelahiran Yesus di Alkitab dan
berkeras bahwa tanggal tersebut diperoleh dari masa perayaan musim
dingin kaum penyembah berhala di Roma kuno, Saturnalia.
Pada tahun 1620, Kaum Puritan bekerja dalam proyek pembangunan dan dengan terang-terangan mengabaikan perayaan Natal.
Pernyataan
bahwa perayaan Natal mengalihkan orang dari kesalehan religius
berlanjut sampai Puritanisme menyusut. Pada tahun 1827, seorang Uskup
Episkopal menyatakan bahwa Iblis telah mencuri Natal dan membuatnya
menjadi suatu festival duniawi yang dirayakan dengan minum-minuman keras
dan berbicara keras. Sepanjang tahun 1800, banyak pemimpin religius
yang masih berusaha untuk bertahan pada hal itu.
Masa liburan
tersebut dikembangkan lebih lanjut dari legenda Santo Nicholas. Meskipun
sejarah tidak mengkonfirmasi hal ini, orang yang dianggap Santo
Nicholas hidup pada abad ke-4 dan dipercayakan sebagai seorang uskup di
Asia Kecil. Banyak peristiwa ajaib seputar dirinya yang diragukan, namun
demikian, beberapa negara tetap memakai namanya sebagai santo pelindung
mereka. Ia dianggap sebagai santo pelindung dari anak-anak, pelaut dan
kaum miskin.
Untuk menghormatinya, Festival Santo Nicholas
diadakan tanggal 6 desember dan hadiah-hadiah diberikan pada malam
sebelumnya. Tradisi ini kemudian berkembang di banyak negara Eropa di
abad ke-12.
Akhirnya, karena Hari Santo Nicholas dan Hari Natal sangat berdekatan, tradisi keduanya dikombinasikan.
Santo
Nicholas memiliki berbagai karakter di negara-negara tertentu.
Contohnya, Belanda memiliki Sinter Klaas; Father Christmas yang
memberikan hadiah di Inggris Raya; Pére Noël melakukan hal yang sama di
Perancis; dan di Jerman terdapat Santo Nicholas yang memiliki banyak
nama termasuk Klaasbuur, Burklaas, Rauklas, Bullerklaas, dan Sunnercla,
meskipun Father Christmas juga menjadi populer. Di Amerika Serikat, nama
Sinter Klaas menjadi Santa Claus.
Natal meraih popularitas saat
berubah menjadi perayaan domestik, setelah publikasi Clement Clarke
Moore “Kunjungan dari Santo Nichloas”dan gambar Thomas Nast di Harper’s
Weekly, yang menggambarkan gambaran Santa dengan janggut putih yang
memberikan hadiah bagi anak-anak. Penekanan baru ini mengurani
kekuatiran para pemimpin religius bahwa perayaan itu akan berakhir
dengan minum-minum dan berserapah.
Asal Kata
Kata Natal
(Christmas) di Inggris Kuno berasal dari kata Cristes Maesse, Misa
Kristus, pertama kali ditemukan pada tahun 1038, dan Cristes-messe, pada
tahun 1131. Di Belanda adalah Kerst-misse, dalam bahasa Latin Dies
Natalis, yang membuat Noël dalam bahasa Perancis, dan bahasa Itali Il
natale; dalam bahasa Jerman Weinachsfest, dari suatu upacara sakral
kuno.
Asal Usul Pohon Natal
Pohon Natal merupakan hiasan
yang hampir selalu ada di setiap perayaan Natal. Tradisi ini juga
memiliki banyak cerita tentang asal-usulnya, antara lain berikut ini.
Orang
Romawi mendekorasi rumah mereka dengan cabang pohon evergreen selama
tahun baru dan penduduk asli kuno dari Eropa Utara memotong batang pohon
evergreen – simbol kuno bagi kehidupan di tengah musim dingin – dan
menanamnya di dalam rumah. Praktek ini diikuti oleh sebagian orang
Kristen mula-mula yang merasa perlu menghormati orang Romawi. Namun,
banyak orang Kristen mula-mula seperti Tertullian yang memusuhi praktek
seperti itu. Kemudian, pada masa awal Abad pertengahan muncul sebuah
legenda yang menceritakan bahwa saat Kristus lahir di akhir musim
dingin, setiap pohon seluruh dunia secara ajaib meluruhkan es dan salju
di cabang pohonnya dan memproduksi cabang baru yang hijau.
Pada
saat yang sama, misionaris Kristen berkhotbah pada oarang Jerman dan
Slavia mengambil pendekatan yang lebih toleran dari praktek kebudayaan.
Para misionaris ini percaya bahwa Sang Inkarnasi memproklamirkan
ketuhanan Yesus atas segala simbol yang awalnya digunakan untuk
menyembah para dewa pagan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi manusia
secara individual, tetapi juga terhadap kebudayaan, simbol-simbol dan
tradisi yang telah berubah.
Terntunya, hal ini tidak berarti mereka bertoleransi terhadap penyembahan dewa-dewa pagan.
Tidak
ada catatan jelas tentang pohon yang digunakan sebagai simbol Natal
sampai pada Abad Pencerahan – berawal dari Latvia pada tahun 1510 dan
Strasbourg tahun 1521. Legenda juga mencatat Martin Luther dengan
penemuan pohon Natal, tetapi cerita tersebut meiliki sedikit dasar
sejarah. Menurut legenda lainnya, misionaris abad ke-8, Boniface,
setelah memotong sebuah pohon oak yang disakralkan bagi dewa pagan Thor
(dan digunakan untuk pengorbanan manusia), menunjuk sebuah pohon cemara
sebagai simbol kasih dan belas kasihan Allah.
Teori yang paling
dapat dipercaya di balik kemunculan pohon Natal di abad ke-16
berhubungan dengan sebuah permainan drama di Abad Pertengahan. Drama
tersebut mulai menjadi bagian dari liturgi gereja. Tetapi, di akhir Abad
Pertengahan, drama tersebut semakin kasar dan didominasi oleh orang
awam serta mengambil tempat di ruangan terbuka. Drama tersebut
memperingati hari kelahiran (Nativity) terhubung dengan cerita
penciptaan – karena Malam Natal juga dianggap sebagai hari festival Adam
dan Hawa. Sebagai bagian dari drama itu, Taman Eden disimbolisaskan
sebagai pohon firdaus yang digantungi buah.
Pada abad ke-16,
drama tersebut dilarang di banyak tempat. Karna itu lah mungkin
orang-orang memasang pohon firdaus di rumah mereka sebagai kompensasi
karena mereka tidak lagi dapat menikamati permainan drama tersebut.
Pohon Natal mula-mula (atau cabang pohon hijau) digunakan di rumah
mengacu sebagai firdaus.
Mereka sering digantungi dengan wafer yang
mensimbolisasi Ekaristi, yang dikembangkan menjadi ornamen kue-kue yang
mendekorasi pohon Natal di Jerman saat ini. Deskripsi detail pertama
pohon seperti itu bertanggal pada 1605.
Kebiasaan tersebut meraih
popularitas sepanjang abad 17 – 18, melawan protes berbagai pendeta.
Pendeta Lutheran, Johann von Dannhauer contohnya, mengeluhkan (seperti
Tertullian) bahwa simbol tersebut mengalihkan perhatian para pemercaya
dari “pohon hijau”yang sesungguhnya, Yesus Kristus. Tetapi hal ini tidak
menghentikan banyak gereja untuk memasang pohon Natal di dalam tempat
ibadah mereka.
Bersama dengan pohon itu, pohon sering kali berbentuk
piramid kayu – rak-rak lemari berisi lulun-lilin, kadang satu bagi
setiap anggota keluarga. Akhirnya, piramid dari lailin-lilin inilah yang
ditempatkan pohon.
Pohon Natal hanyak menjadi umum di negara
berbahasa Inggris di abad ke 19, dipopulerkan di Inggris oleh Ratu
Victoria dan diperkenalkan di Amerika oleh imigran berbahasa Jerman.
Saat ini, pohon Natal dijadikan jembatan antara arti perayaan Kristen
dan ekspresi sekularnya.
Beberapa Fakta Seputar Natal :
- Beberapa orang Kristen merayakan kedatangan Yesus Kristus pada tanggal 6 januari, Epifani, yaitu saat Ia dipercayai dibaptis.
- Lagu “Dua Belas Hari Natal”(“The Twelve Days of Christmas”) mengacu pada 12 hari antara Natal dan Epifani.
- Kata Xmas terkadang digunakan daripada Natal. Di bahasa Yunani, X adalah huruf pertama dari nama Kristus.
-
Pada tahun 1969, gereja Katolik Roma mengeluarkan Festival Santo
Nicholas dari kalendernya karena masa hidupnya tidak terdokumentasikan.
-
Rudolph tidak menjadi rusa ke-9 Santa sampai tahun 1939 saat seorang
penulis periklanan bagi sebuah departement store Montgomery Ward
menciptakannya.
Rado Sianipar
Bulan Desember, tepatnya tanggal 25 desember, dunia merayakan Hari
Natal. Perayaan tersebut dianggap memperingati kelahiran Yesus Kristus.
Namun, benarkah Yesus lahir pada tanggal tersebut? Lalu, bagaimana perayaan Natal di masa gereja mula-mula?
Bagaimana pula asal-usul pernak pernik Natal, seperti pohon Natal? Simak jawabannya berikut ini.
Sejarah Singkat Perayaan Natal
Awalnya, perayaan Natal diperkirakan
berasal dari festival Romawi dan negara Eropa lainnya yang menandai
akhir masa panen dan masa titik balik matahari di musim gugur. Menurut
sejarah awal Romawi, penentuan tanggal 25 desember sebagai masa awal
kelahiran Yesus Kristus dilakukan pada abad ke-4. Beberapa kebiasaan
dari perayaan yang masih bertahan sampai saat ini termasuk mendekorasi
rumah dengan tumbuh-tumbuhan hijau, pemberian hadiah, menyanyikan
lagu-lagu dan menyiapkan masakan istimewa.
Kaum Puritan
beranggapan bahwa Natal bukan bagian dari Kekristenan. Mereka tidak
menemukan 25 desember sebagai tanggal kelahiran Yesus di Alkitab dan
berkeras bahwa tanggal tersebut diperoleh dari masa perayaan musim
dingin kaum penyembah berhala di Roma kuno, Saturnalia.
Pada tahun 1620, Kaum Puritan bekerja dalam proyek pembangunan dan dengan terang-terangan mengabaikan perayaan Natal.
Pernyataan
bahwa perayaan Natal mengalihkan orang dari kesalehan religius
berlanjut sampai Puritanisme menyusut. Pada tahun 1827, seorang Uskup
Episkopal menyatakan bahwa Iblis telah mencuri Natal dan membuatnya
menjadi suatu festival duniawi yang dirayakan dengan minum-minuman keras
dan berbicara keras. Sepanjang tahun 1800, banyak pemimpin religius
yang masih berusaha untuk bertahan pada hal itu.
Masa liburan
tersebut dikembangkan lebih lanjut dari legenda Santo Nicholas. Meskipun
sejarah tidak mengkonfirmasi hal ini, orang yang dianggap Santo
Nicholas hidup pada abad ke-4 dan dipercayakan sebagai seorang uskup di
Asia Kecil. Banyak peristiwa ajaib seputar dirinya yang diragukan, namun
demikian, beberapa negara tetap memakai namanya sebagai santo pelindung
mereka. Ia dianggap sebagai santo pelindung dari anak-anak, pelaut dan
kaum miskin.
Untuk menghormatinya, Festival Santo Nicholas
diadakan tanggal 6 desember dan hadiah-hadiah diberikan pada malam
sebelumnya. Tradisi ini kemudian berkembang di banyak negara Eropa di
abad ke-12.
Akhirnya, karena Hari Santo Nicholas dan Hari Natal sangat berdekatan, tradisi keduanya dikombinasikan.
Santo
Nicholas memiliki berbagai karakter di negara-negara tertentu.
Contohnya, Belanda memiliki Sinter Klaas; Father Christmas yang
memberikan hadiah di Inggris Raya; Pére Noël melakukan hal yang sama di
Perancis; dan di Jerman terdapat Santo Nicholas yang memiliki banyak
nama termasuk Klaasbuur, Burklaas, Rauklas, Bullerklaas, dan Sunnercla,
meskipun Father Christmas juga menjadi populer. Di Amerika Serikat, nama
Sinter Klaas menjadi Santa Claus.
Natal meraih popularitas saat
berubah menjadi perayaan domestik, setelah publikasi Clement Clarke
Moore “Kunjungan dari Santo Nichloas”dan gambar Thomas Nast di Harper’s
Weekly, yang menggambarkan gambaran Santa dengan janggut putih yang
memberikan hadiah bagi anak-anak. Penekanan baru ini mengurani
kekuatiran para pemimpin religius bahwa perayaan itu akan berakhir
dengan minum-minum dan berserapah.
Asal Kata
Kata Natal
(Christmas) di Inggris Kuno berasal dari kata Cristes Maesse, Misa
Kristus, pertama kali ditemukan pada tahun 1038, dan Cristes-messe, pada
tahun 1131. Di Belanda adalah Kerst-misse, dalam bahasa Latin Dies
Natalis, yang membuat Noël dalam bahasa Perancis, dan bahasa Itali Il
natale; dalam bahasa Jerman Weinachsfest, dari suatu upacara sakral
kuno.
Asal Usul Pohon Natal
Pohon Natal merupakan hiasan
yang hampir selalu ada di setiap perayaan Natal. Tradisi ini juga
memiliki banyak cerita tentang asal-usulnya, antara lain berikut ini.
Orang
Romawi mendekorasi rumah mereka dengan cabang pohon evergreen selama
tahun baru dan penduduk asli kuno dari Eropa Utara memotong batang pohon
evergreen – simbol kuno bagi kehidupan di tengah musim dingin – dan
menanamnya di dalam rumah. Praktek ini diikuti oleh sebagian orang
Kristen mula-mula yang merasa perlu menghormati orang Romawi. Namun,
banyak orang Kristen mula-mula seperti Tertullian yang memusuhi praktek
seperti itu. Kemudian, pada masa awal Abad pertengahan muncul sebuah
legenda yang menceritakan bahwa saat Kristus lahir di akhir musim
dingin, setiap pohon seluruh dunia secara ajaib meluruhkan es dan salju
di cabang pohonnya dan memproduksi cabang baru yang hijau.
Pada
saat yang sama, misionaris Kristen berkhotbah pada oarang Jerman dan
Slavia mengambil pendekatan yang lebih toleran dari praktek kebudayaan.
Para misionaris ini percaya bahwa Sang Inkarnasi memproklamirkan
ketuhanan Yesus atas segala simbol yang awalnya digunakan untuk
menyembah para dewa pagan. Hal ini tidak hanya berlaku bagi manusia
secara individual, tetapi juga terhadap kebudayaan, simbol-simbol dan
tradisi yang telah berubah.
Terntunya, hal ini tidak berarti mereka bertoleransi terhadap penyembahan dewa-dewa pagan.
Tidak
ada catatan jelas tentang pohon yang digunakan sebagai simbol Natal
sampai pada Abad Pencerahan – berawal dari Latvia pada tahun 1510 dan
Strasbourg tahun 1521. Legenda juga mencatat Martin Luther dengan
penemuan pohon Natal, tetapi cerita tersebut meiliki sedikit dasar
sejarah. Menurut legenda lainnya, misionaris abad ke-8, Boniface,
setelah memotong sebuah pohon oak yang disakralkan bagi dewa pagan Thor
(dan digunakan untuk pengorbanan manusia), menunjuk sebuah pohon cemara
sebagai simbol kasih dan belas kasihan Allah.
Teori yang paling
dapat dipercaya di balik kemunculan pohon Natal di abad ke-16
berhubungan dengan sebuah permainan drama di Abad Pertengahan. Drama
tersebut mulai menjadi bagian dari liturgi gereja. Tetapi, di akhir Abad
Pertengahan, drama tersebut semakin kasar dan didominasi oleh orang
awam serta mengambil tempat di ruangan terbuka. Drama tersebut
memperingati hari kelahiran (Nativity) terhubung dengan cerita
penciptaan – karena Malam Natal juga dianggap sebagai hari festival Adam
dan Hawa. Sebagai bagian dari drama itu, Taman Eden disimbolisaskan
sebagai pohon firdaus yang digantungi buah.
Pada abad ke-16,
drama tersebut dilarang di banyak tempat. Karna itu lah mungkin
orang-orang memasang pohon firdaus di rumah mereka sebagai kompensasi
karena mereka tidak lagi dapat menikamati permainan drama tersebut.
Pohon Natal mula-mula (atau cabang pohon hijau) digunakan di rumah
mengacu sebagai firdaus.
Mereka sering digantungi dengan wafer yang
mensimbolisasi Ekaristi, yang dikembangkan menjadi ornamen kue-kue yang
mendekorasi pohon Natal di Jerman saat ini. Deskripsi detail pertama
pohon seperti itu bertanggal pada 1605.
Kebiasaan tersebut meraih
popularitas sepanjang abad 17 – 18, melawan protes berbagai pendeta.
Pendeta Lutheran, Johann von Dannhauer contohnya, mengeluhkan (seperti
Tertullian) bahwa simbol tersebut mengalihkan perhatian para pemercaya
dari “pohon hijau”yang sesungguhnya, Yesus Kristus. Tetapi hal ini tidak
menghentikan banyak gereja untuk memasang pohon Natal di dalam tempat
ibadah mereka.
Bersama dengan pohon itu, pohon sering kali berbentuk
piramid kayu – rak-rak lemari berisi lulun-lilin, kadang satu bagi
setiap anggota keluarga. Akhirnya, piramid dari lailin-lilin inilah yang
ditempatkan pohon.
Pohon Natal hanyak menjadi umum di negara
berbahasa Inggris di abad ke 19, dipopulerkan di Inggris oleh Ratu
Victoria dan diperkenalkan di Amerika oleh imigran berbahasa Jerman.
Saat ini, pohon Natal dijadikan jembatan antara arti perayaan Kristen
dan ekspresi sekularnya.
Beberapa Fakta Seputar Natal :
- Beberapa orang Kristen merayakan kedatangan Yesus Kristus pada tanggal 6 januari, Epifani, yaitu saat Ia dipercayai dibaptis.
- Lagu “Dua Belas Hari Natal”(“The Twelve Days of Christmas”) mengacu pada 12 hari antara Natal dan Epifani.
- Kata Xmas terkadang digunakan daripada Natal. Di bahasa Yunani, X adalah huruf pertama dari nama Kristus.
-
Pada tahun 1969, gereja Katolik Roma mengeluarkan Festival Santo
Nicholas dari kalendernya karena masa hidupnya tidak terdokumentasikan.
-
Rudolph tidak menjadi rusa ke-9 Santa sampai tahun 1939 saat seorang
penulis periklanan bagi sebuah departement store Montgomery Ward
menciptakannya.
Rado Sianipar

Tidak ada komentar:
Posting Komentar